About

Subscribe

Monday, April 3, 2017

Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum

PENGERTIAN PESERTA DIDIK MENURUT ISLAM DAN UMUM


PENDAHULUAN

Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.
Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.
Sebagai peserta didik juga harus memahami kewajiban, etika serta melaksanakanya. Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh peserta didik. Sedangkan etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan yang harus di tati dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam proses belajar.
Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.
Peserta didik berstatus sebagai subjek didi. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannnya. Selaku pribadi yang memiliki cirri khas dan ingin mengembangkan diri secara terus menerus guna memecahkan masalah hidup yang di jumpai sepanjang hidupnya.
  
Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum


 PEMBAHASAN

1.      Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum
Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan Tilmidz jamaknya adalah Talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang mengingini pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
من طلب علما فادركه كتب الله كفلين…….( رواه الطبرنى )
“Siapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya dua bagian”. (HR. Thabrani)
Jadi, peserta didik menurut islam adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.
Sedangkan peserta didik menurut umum adalah anggota masyarakat yang  berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan untuk bisa tumbuh dan berkembang kearah kedewasaan. Dan menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
2.      Dasar-dasar kebutuhan manusia pada pendidikan
Dasar kebutuhan manusia adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusia bisa mempertahankan hidupnya. Peran pendidik yang utama adalah tercapainya suatu kepuasan bagi diri sendiri dan peserrta didiknya. Hal ini menggambarkan suatu bagian dimana penerapan proses pendidikan selalu difokuskan pada kebutuhan individu yang unik dan sebagai suatu bagian dari integral dari keluarga dan masyarakat. Dan menjadi tanggung jawab dari setiap orang. Misalnya tanggung jawab orangtua terhadap anaknya, demikian juga tanggung jawab pendidik untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar peserta didik. Peran tersebut dilaksanakan secara optimal melalui proses pendekatan pendidikan. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak di rancang untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar dimulai dengan orang terdekatnya. Yang selanjutnya proses belajar itulah yang menjadi basis pendidikan.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subyektif yang sering justru dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya. Produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrument kekuasaan dan kesombongan untuk memperdayai orang lain. Kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.


3.      Faktor-faktor keberhasilan pendidikan
a.       Pendidik
Pendidik yang mampu untuk menjalankan tugas keguruannya secara proporsional dan mampu menjadi motivator dalam proses belajar mengajar disekolah.
b.      Peserta didik
Peserta didik yang bersih hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa,peserta didik yang selalu menghormati gurunya.
c.       Kurikulum
Kurikulum berbasis kompetensi yang selaras dengan fitrah insane sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik.
d.      Metode
Metode pendidikan yang berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran anak didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran agama islam melalui motivasi.
e.       Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana bisa memotivasi belajar siswa sehingga tercapai tujuan pendidikan
f.       Faktor psikologis para peserta anak didik
Pendidik sebagai pengajar harus mengetahui kejiwaan anak didiknya. Begitu pula orang tua harus mengetahui kejiwaan anaknya. karena pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah tapi juga dirumah.

4.      Sifat-sifat yang harus dimiliki peserta didik
Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami sifat yang harus dimilkinya, yaitu:
1.       Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2.      Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
4.      Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.

Filsafah etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam bukunya Ihya ‘Ulumudin. Dengan kata lain, filsafah etika Al Ghazali adalah teori tasawufnya.
Mengenai tujuan pokok dari etika al Ghazali kita temui pada semboyan tasawuf yang terkenal: al-takhalluq bi-akhlaqillahi ‘ala thaqatil basyariyah, atau pada semboyannya yang lain, al-shifatirrahman ala thaqalil-basyatiyah.
Maksud semboyan itu adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas, beragama, dan sebagainya.

Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum
Peserta didik juga mempunyai kewajiban, diantaranya yaitu menurut UU RI No.20 tahun 2003:
     a.  Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.
 b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali bagi yang di bebaskan dari biaya tersebut.



5.      Adab peserta didik
1.      Mensucikan hati
2.      Mengurangi keterkaitan dengan kesibukan duniawi
3.      Tidak sombong
4.      Mendahulukan menuntut ilmu yang paling penting untuk dirinya
5.      Mengetahui cirri-ciri ilmu yang paling mulia
6.      Peserta didik harus sopan dalam berbuat maupun berbicara dengan orang yang lebih tua

6.      Kemuliaan belajar
Kemuliaan belajar dan mengajar menurut Al Ghazali :

a.  Bersumber dari al-Qur’an (QS. At-Taubah: 122)
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ayat tersebut mendorong setiap individu maupun kelompok untuk belajar, menuntut ilmu dan memperdalam ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan, seperti komentar al-Ghazali pada ayat tersebut, yaitu: “Rupanya mereka tidak mengetahui bahwa fiqih itu adalah penguasaan paham tentang Allah dan ma’rifat terhadap sifat-sifat-Nya, sehingga dapat mengingatkan dan menjaga dirinya, di mana hatinya merasa takut dan memenuhi ketentuan taqwa yang sebenarnya.”

b.    Bersumber dari Al-Hadits
“Nabi Muhammad saw mengatakan, sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu, sebagai tanda ridha dengan usahanya itu.(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Sofwan ban Assal).
Dari hadis ini dapat difahami bahwa para malaikat juga mendoakan orang yang menuntut ilmu di jalan Allah. Dengan kata lain selain orang itu menuntut ilmu untuk mencari ridho Allah SWT, orang tersebut (peserta didik) juga harus berusaha (berikhtiar).

c.    Bersumber dari Perkataan Sahabat
“Ibnu Mubarak mengatakan: aku heran kepada orang yang tidak menuntut ilmu pengetahuan. Bagaimanakah jiwanya dapat mengajaknya kepada kemuliaan.”
Sedangkan kemuliaan dari mengajar yaitu:

1.    Bersumber dari al-Qur’an (QS. At-Taubah: 122)
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Dari perkataan sahabat dan ayat Al-Qur’an tersebut terdapat korelasi bahwasannya menuntut ilmu itu sangat penting. Menuntut ilmu berarti juga jihad fi sabilillah, dalam artian jihad fi sabilillah di sini tidak hanya berperang di medan perang akan tetapi menun tut ilmu adalah salah satu jihad untuk menambah pengetahuan.

2.    Bersumber dari Al-Hadits
Rasulullah saw telah mengatakan :
“Misal aku diperintahkan Allah dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seumpama hujan lebat yang menyirami bumi. Di antara ada sebidang tanah yang menerima air hujan itu, lalu menumbuhkan banyak rumput dan ilalang. Di antara ada yang dapat membendung air itu, lalu diberikan oleh Allah kepada manusia, maka mereka minum, menyiram dan bercocok tanam. Dan diantaranya ada sebagian tempat yang rata-rata tidak dapat membendung air itu dan tidak dapat menumbuhkan rumput”.
Kemudian al-Ghozali memberikan komentarnya sebagai berikut:
“Pertama, Dia (Nabi) menyebut perumpamaan bagi orang yang dapat mengambil manfaat dengan ilmunya.
“Kedua, ia menyebut perumpamaan bagi orang yang tidak memperoleh apa-apa dari keduanya itu.
Jadi orang yang menuntut ilmu itu adakalanya bermanfaat dan tidak. Yakni bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Orang yang menuntut ilmu. Apabila ilmunya tidak diamalkan maka ilmu tersebut akan sia-sia dan hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri bukan untuk orang lain.

3.    Bersumber dari Perkataan Para Sahabat
“Umar ra. Berkata : barang siapa yang mengatakan (memberitakan) suatu hadits, lalu diamalkan orang, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.”
Hadis tersebut menerangkan tentang orang yang memberitakan ilmu pengetahuan kepada orang lain yang kemudian diamalkan maka pahalanya sama dengan orang yang mengamalkannya.



DAFTAR PUSTAKA
Nuruhbiyati. 2000. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Setia
UU RI NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Purwanto, M. Ngalim MP. 1985. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT.Remaja
            Rosdakarya
Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Mustofa, H. A. Drs. 1997. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia

Saturday, April 1, 2017

FAKTOR YANG MENYEBAB KAN ANAK SULIT BELAJAR

FAKTOR YANG MENYEBAB KAN ANAK SULIT BELAJAR

FAKTOR YANG MENYEBAB KAN ANAK SULIT BELAJAR

Beberapa faktor yang menyebabkan anak sulit belajar yaitu:
a.       Kemampuan intelektual anak ada yang cepat dan ada yang lambat.
b.  Kesehatan fisik anak, kalau anaknya lemah sering sakit dia juga akan mengalami kesulitan-kesulitan di dalam belajar.
c.    Strategi belajar dan kebiasaan belajar, kebiasaan yang salah itu akan mempengaruhi hasilnya yang tidak memuaskan.
d.  Masalah lingkungan belajar, kalau lingkungannya tidak menyenangkan, maka anak juga akan terganggu belajar.
e.  Rasa tanggung jawab anak di dalam belajar. Untuk mengetahui kemampuan intelektual ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yaitu:
a.   Membawa anak ke seorang psikolog atau biro konseling untuk memeriksakan anak dengan test intelegensi.
b.   Cara yang lain kita bisa mengamati anak kita ketika anak ini di sekolah yang bobot pelajarannya itu sama jadi tingkat kesulitan pelajarannya itu sama. Yang secara spesifik lagi mungkin anak misalnya mempunyai konsentrasi yang buruk, anak mengalami kesulitan dalam membaca atau juga ada anak yang kesulitan di dalam koordinasi visual dan motoriknya, jadi antara mata dengan tangannya dsb itu tidak terkoordinasi dengan baik.

FAKTOR YANG MENYEBAB KAN ANAK SULIT BELAJAR
Untuk masalah fisik yang juga menjadi penyebab anak kesulitan belajar misalnya gangguan penglihatan sehingga waktu di kelas dia kesulitan untuk melihat ke papan tulis, gangguan pendengaran sehingga anak tidak bisa mendengar pelajaran dengan baik, kemungkinan juga anak kekurangan kadar Hb atau bahkan mungkin cacingan yang menyebabkan anak lemas dan tidak bisa konsentrasi. Hal-hal seperti ini orang tua harus menyadari dan memperhatikan dengan cermat.

Kebiasaan belajar yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar:
1.      Anak diharuskan mempelajari sekaligus bahan pelajaran yang begitu banyak dalam waktu yang sangat panjang.
2.      Anak bermain playstasion dan menonton televisi sebelum belajar, sementara main dan nonton itu menyerap semangat kita cukup banyak sehingga melelahkan. Jadi waktu anak belajar dia sudah lelah dan kehilangan minat.
3.    Anak yang tidak pernah merapikan bukunya dan menghabiskan waktu hanya untuk mencari bahan pelajaran sekolahnya.
4. Anak yang sebenatar-sebentar mencari makanan ketika belajar.Lingkungan belajar yang mengganggu anak belajar adalah:
1.      Suasana rumah yang semrawut dan tidak rapi.
2.      Rumah yang dipenuhi oleh kebisingan suara musik, motor, dan lain-lain.
3.  Pertengkaran orang tua, orang tua tidak harmonis ini banyak sekali membuat prestasi anak merosot dsb.
4.  Tetangga yang suka datang atau menelepon dan mengajak anak kita bermain.
5.      Kakak atau adik yang suka mengganggu.


Untuk tanggung jawab, pada mulanya anak memang perlu dibimbing untuk mempunyai strategi dan kebiasaan belajar yang baik dan dibantu ketika mengalami kesulitan memahami pelajaran. Ketika anak sudah mempunyai strategi yang pas dsb. dan anak bisa dilepas, biarkan dia mengerjakan atau memikul bebannya sendiri.

Thursday, March 30, 2017

PERANAN GURU DALAM MEMBINA RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah lingkungan baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun mayarakat 
sudah seyogyanya jika dalam diri individu ditanamkan satu kepercayaan pada 
kemampuannya untuk membuat suatu keputusan sendiri dan untuk melakukan pilihan 
sendiri. Di samping itu individu haruslah diberi kesempatan untuk mengungkapkan 
pendapat serta menempuh suatu resiko. Dengan demikian individu akan memiliki suatu 
perkembangan dengan baik.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang mengupayakan individu untuk menjadi manusia 
dewasa dan seutuhnya. Umar Tirtaraharja dan La Sulo (2005:33) mengartikan pendidikan 
dengan beberapa batasan, diantaranya :
1.      Pendidikan sebagai tranformasi budaya.
Pendikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi 
yang lain. Nilai-nilai budaya mengalami proses tranformasi dari generasi tua ke generasi
muda.
2.      Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi.
Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada 
terbentuknya kepribadian peserta didik.
3.      Pendidikan sebagai proses pembentukan warga negara.
Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta 
didik agar menjadi warga negara yang baik.
4.      Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja.
Pendidikan diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki 
bekal dasar  untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan,
dan keterampilan kerja pada calon luaran.
 
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan 
proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk 
memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia serta 
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut Muhibbin 
Syah (2008:10) “Pendidikan adalah  sebuah proses dalam mengupayakan perubahan sikap 
dan tingkah laku seorang atau sekelompok orang di dalam mendewasakan manusia melalui 
upaya pengajaran dan pelatihan”.
Tergambar jelas bahwa pendidikan  merupakan  unsur  yang tidak  dapat dipisahkan  dalam 
diri individu mulai  dari  kandungan  sampai  beranjak  dewasa kemudian  tua. Individu itu 
sendiri mengalami proses pendidikan yang didapatkan dari lingkungan baik lingkungan 
keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan  bagaikan  cahaya penerang yang 
berusaha menuntun  individu dalam menentukan  arah,  tujuan,  dan  makna kehidupan. 
Seorang individu sangat membutuhkan pendidikan melalaui proses penyadaran yang 
berusaha menggali dan mengembangkan potensi dirinya melalaui proses belajar dalam 
lingkunagn keluarga, sekolah maupun masyarakat. Maka sudah seharusnya jika seorang 
individu mendapat perhatian lebih dalam mengembangan potensi dirinya, salah satunya 
ialah di mana individu itu mampu memiliki rasa percaya diri yang besar melalui proses 
pendidikan yang ada di dalam keluarga, sekolah maupun masyarakatnya.
Dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui sekolah, kepala sekolah dan jajarannya
berusaha memberikan pelayanan pendidikan kepada para peserta didik sesuai dengan 
strategi yang telah dirancang. Guru bidang studi merancang dan melaksanakan program 
layananan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga diharapkan peserta didik 
dapat mengikuti pelajaran dengan sebaik-baiknya.
Sekolah sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal mempunyai
peranan yang sangat penting dalam menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya.
Dalam memberikan layanan pendidikan formal maka guru merupakan faktor utama, karena 
guru sebagi pemegang peranan sebagai pendidik. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru 
banyak sekali memegang berbagai peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebagai
seorang guru. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatan di 
sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam uraian peranan guru di atas jelas bahwa guru sebagai pendidik ikut bertanggung jawab
 akan keberhasilan para peserta didiknya. Guru dan peserta didik merupakan orang-orang 
yang terlibat dalam proses dan hasil dari kegiatan yang dilakukan dalam setiap proses belajar 
dan pembelajaran.
Peserta didik yang kurang memiliki rasa percaya diri, akan menghambat dalam proses 
perkembangan belajarnya, mereka akan sulit untuk mengemukakan pendapat, bertanya serta 
bergaul dengan teman sekolahnya, dan ini akan menjadi suatu kendala bagi perkembangan 
dirinya. Maka dalam hal ini guru bimbingan dan konseling sebagai petugas bimbingan 
mempunyai tanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara 
optimal baik dari aspek pribadi, sosial, pendidikan, pengajaran maupun karirnya. Guru 
bimbingan dan konseling harus membina dan mengembangkan rasa percaya diri mereka, 
sehingga mereka mampu untuk berani dalam mengemukakan pendapatnya, mampu bergaul 
dengan tanpa memandang perbedaan, mampu untuk bertanya dan pastinya mereka sebagai 
peserta didik mampu untuk mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu guru 
bimbingan dan konseling haruslah petugas yang menguasai dan kompeten di bidangnya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka dengan ini penulis 
mengadakan penelitian dengan judul “Peranan Guru Bimbingan dan Konseling dalam 
Membina Rasa Percaya Diri Peserta Didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta”.
 
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat 
mengidentifikasi berbagai permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:
1.      Setiap peserta didik perlu memiliki rasa percaya diri yang besar ketika masuk kedalam sebuah 
lingkungan baru.
2.      Membina rasa percaya diri merupakan upaya dalam menumbuhkan kepercayaan terhadap diri 
peserta didik agar diri mereka mampu dan berani untuk beradaptasi dalam berbagai siatuasi apapun.
3.      Pedidikan dalam sebuah keluarga merupakan awal peranan penting dalam membentuk rasa 
percaya diri peserta didik.
4.      Peranan guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan peserta didik dalam menumbuhkan 
rasa percaya diri mereka.
5.      Guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam memberikan kesempatan dalam
 membangkitkan rasa percaya diri peserta didik.
6.      Seorang guru bidang studi harus bekerjasama dengan guru bimbingan konseling dalam
 membina rasa percaya diri peserta didik. 
7.      Guru bimbingan dan konseling yang kompeten sangat diperlukan dalam menumbuhkan rasa 
percaya diri peserta didik.
 
C.    Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan masalah yang telah diuraikan dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas, agar tidak meluas dalam pembahasannya, maka penulis membatasi lingkup masalah yang akan diteliti, yaitu : “Peranan guru bimbingan dan konseling dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta”.
 
D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah ditetapkan diatas, dan pembahasan masalah
 bisa berfokus kepada permasalahannya, maka masalah dalam penelitian ini dapat 
dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana peranan guru bimbingan dan konseling
dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta?”.
 
E.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai peranan guru bimbingan dan 
konseling dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA)
 Jakarta.
 
F.     Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna bagi :
1.      Sekolah
Sebagai bahan masukan dalam melaksanakan program sekolah yang akan mendatang untuk 
lebih memperhatikan dalam membina rasa percaya diri kepada para peserta didik.
2.      Guru Bimbingan dan Konseling
Sebagai bahan masukan bagi guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan layanan 
bimbingan untuk lebih memperhatikan khususnya membina rasa percaya diri kepada peserta 
didik. 
3.      Guru Bidang Studi
Sebagai bahan masukan untuk dan agar memberikan kesempatan dalam membangkitkan rasa
percaya diri peserta didik serta bekerjasama dengan guru bimbingan dan konseling dalam 
melaksanakan program layanan bimbingan di sekolah.
4.      Penulis

Sebagai persyaratan akhir perkuliahan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) 
pada Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan 
Sosial Universitas 
PERANAN GURU DALAM MEMBINA RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK