About

Subscribe

Friday, June 1, 2018

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

A.  PENGANTAR
Salah satu tugas penting yang acapkali dan bahkan pada umumnya di lupakan oleh staf pengajar (Guru, Dosen Dan lain-lain) adalah tugas melakukan evaliasi  terhadap alat pengukur yang telah di gunakan untuk mengukur keberhasilan belajar dari para peserta didiknya (murid, siswa, mahasiswa Dll). Alat pengukuran yang dimaksud adalah tes hasil belaja, yang sebagai mana telah maklumi, batang tubuhnya terdiri dari kumpulan butir soal (=item)
Penelusuran atau pelacakan itu dilaksanakan oleh tester dengan tujuan untuk mengetahui, apakah butir-butir item yang membangun tes hasil belajar itu sudah dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memadai ataukah belum.

B.  TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR
Penganalisaan terhadap butir-butir item tes hasil belajar dapat di lakukan dari tiga segi, yaitu :
(1) dari segi derajat kesukaran item
(2) dari sega daya pembeda item

(3) dari segi fungsi distraktornya.


1.      Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item
Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah. Dengan kata lain, derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup.
Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kesulitan item itu dikenal dengan istilah difficulty index (= angka indeks kesukaran item), yang dalam dilambangkan dengan huruf P, yaitu singkatan dari kata proportion (proporsi = proporsa).
Menurut Witherington, angka indeks kesukaran item itu besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Angka indeks kesukaran sebesar 0,00 (P = 0,00) merupakan petunjuk bagi tester bahwa butir item tersebut termasuk dalam kategori item yang terlalu sukar, sebab disini seluruh testee tidak dapat menjawab item dengan benar.
Apabila angka indeks kesukaran item itu adalah 1,00 (P = 1,00) hal ini mengandung makna bahwa butir item yang bersangkutan adalah termasuk dalam kategori item yang terlalu mudah, sebab disini seluruh testee dapat menjawab dengan benar butir item yang bersangkutan (yang dapat menjawab dengan butir = 100% = 100 : 100 = 1,00).



Angka indeks kesukaran item itu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Du Bois yaitu:

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR
dimana:
P          =Proportion = proporsi = proporsa = difficulty index = angka indeks kesukaran item.
Np       = Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan bentuk terhadap butir item yang bersangkutan.
N         =  Jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar

Rumus lainnya adalah:
TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

dimana :
P          =Proportion = proporsi = proporsa = difficulty index = angka indeks kesukaran item.
B         = Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betuk terhadap butir item yang bersangkutan.
JS        =    Jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar
Cara memberikan penafsiran (interpretasi) terhadap angka indeks kesukaran item:
a.       Menurut Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen
Besarnya P
Interpretasi
Kurang dari 0,30
Terlalu sukar
0,30 – 0,70
Cukup (Sedang)
Lebih dari 0,70
Terlalu Mudah

b.      Menurut Witherington
Besarnya P
Interpretasi
Kurang dari 0,25
Terlalu sukar
0,25 – 0,75
Cukup (Sedang)
Lebih dari 0,75
Terlalu Mudah

Cara kedua dalam mencari atau menghitung angka indekss kesukaran item adalah dengan menggunakan skala kesukaran liner. Skala kesukaran liner ini disusun dengan cara mentransformasikan nilai P menjadi nilai z, dimana perubahan P ke z itu dilakukan dengan berkonsultasi pada tabel z yang pada umumnya dilampirkan pada buku-buku statistik.
Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh yaitu sebagai berikut:
a.       Mengoreksi nilai P Kotor (Pk) menjadi nilai P bersih (Pb) dengan   menggunakan rumus:

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR
dimana :
Pb        =          P bersih
Pk        =          P kotor
a          =          Alternatif atau option yang disediakan          atau dipasangkan pada butir item yang bersangkutan
1          =          Bilangan konstan
b.      Mentransformasikan nilai P bersih (Pb) menjadi nilai z, dengan berkonsultasi pada tabel kurva normal.
Kita ambil sebagai contoh P bersih yang dimiliki oleh butir item nomor. Butir item nomor 9 ini memiliki P bersih sebesar 0,75. Untuk mentransformasikan P bersih sebesar 0,75 itu menjadi nilai z, kita cari angka sebesar 0,75 itu dalam tabel kurva normal. Dari tabel kurva normal diperoleh kenyataan sebagai berikut:

B
The Larger Area
z
C
The Smaller Area
0,750
0,6745
0,250

Berdasarkan hasil konsultasi pada tabel kurva normal, maka dengan P bersih sebesar 0,75 diperoleh harga z sebesar 0,6745. Dengan berpegang pada patokan yang diberikan oleh Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen, maka dengan angka indeks kesukaran item (dalam hal ini z) sebesar 0,6745 kita dapat menyatakan bahwa butir item nomor 9 itu termasuk dalam kategori item yang telah memiliki derajat kesukaran yang cukup (sedang), berarti butir item nomor 9 itu dinyatakan sebagai butir item yang baik ditilik dari segi tingkat kesulitannya (z terletak antara 0,30 – 0,70).
Sebagai catatan tambahan perlu dikemukakan bahwa ada rumus lain untuk mencari (menghitung) P bersih dengan hasil yang sama, yaitu:

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

dimana:
Pb        =          Angka indeks kesukaran item (setelah            dikoreksi).
B         =          Jumlah testee yang jawabannya benar.
S          =          Jumlah testee yang jawabannya salah.
a          =          Alternatif jawbaan yang dipasang pada item             yang bersangkutan.

2.      Teknik Analisis Daya Pembeda Item
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (= mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi (= pandai), dengan testee yang kemampuannya rendah (= bodoh) sedemikian rupa sehingga sebagian besar testee yang memiliki kemampuan tinggi untuk menjawab butir item tersebut lebih banyak yang menjawab betul, sementara testee yang kemampuannya rendah untuk menjawa butir item tersebut sebagian besar tidak dapat menjawab item dengan benar.
Daya pembeda item itu dapat diketahui melalui atau dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item. Angka indeks diskriminasi item adalah sebuah angka atau bilangan yang menunjukkan besar kecilnya daya pembeda (discriminatory power) yang dimiliki oleh sebutir item.
Indeks diskriminasi item itu umumnya diberi lambang huruf D (singkatan dari discriminatory power), dan besarnya berkisar antara 0 (nol) sampai dengan 1,00.


TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

Besarnya Angka Indeks Diskriminasi Item (D)
Klasifikasi
Interpretasi
Kurang dari 0,20
Poor
Butir item yang bersangkutan daya pembedanya lemah sekali (jelek), dianggap tidak memiliki daya pembeda yang baik.
0,20 – 0,40
Satisfactory
Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang cukup (sedang).
0,40 – 0,70
Good
Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang baik.
0,70 – 1,00
Excellent
Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang baik sekali.
Bertanda negatif
-
Butir item yang bersangkutan daya pembedanya negatif (jelek sekali).

Untuk mengetahui besar kecilnya angka indeks diskriminasi item dapat digunakan dua macam rumus, yaitu:
a.       Rumus pertama:
            D =      PA – pB          atau
            D =      PH – pL
            dimana:
D                     =          Discriminatory power (angka indeks diskriminasi item).
PA atau pH     =          Proporsi testee kelompok atas yang dapat menjawab dengan benar butir item yang bersangkutan.
(PH adalah singkatan dari Proportion of the Higher Group).
pA atau pH ini dapat diperoleh dengan rumus:

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

dimana:
BA      =          Banyaknya testee kelompok atas (the higher group) yang dapat menjawab             dengan benar butir item yang bersangkutan.
JA        =          Jumlah testee yang termasuk dalam kelompok atas.

PB atau pL      =   Proporsi testee kelompok bawah yang dapat menjawab dengan benar butir item yang bersangkutan (Pl adalah singkatan dari Proportion of the Lower Group).
PB atau pL ini dapat diperoleh dengan rumus:

TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

dimana:
BB       =          Banyaknya testee kelompok bawah (the lower group) yang dapat menjawab dengan benar butir item yang bersangkutan.
JB        =          Jumlah peserta yang termasuk dalam kelompok bawah
b.      Rumus kedua:
Dengan rumus kedua ini, maka angka indeks diskriminasi item diperoleh dengan menggunakan teknik korelasi Phi (ø) dengan rumus sebagai berikut:
TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR

dimana:
 Ã¸         =          Angka Indeks Korelasi Phi, yang dalam        hal ini dianggap sebagai angka indeks diskriminasi item.
pH       =          Proportion of the higher group
pL        =          Proportion of the lower group
2          =          Bilangan konstan
p          =          Proporsi seluruh testee yang jawabannya benar
q          =          Proporsi seluruh testee yang jawabannya       salah, dimana q = (1 – p).

3.      Teknik Analisis Fungsi Distraktor
Pada tes obyektif bentuk multiple choice, setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban (= option atau alternatif). Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah. Salah satu darioption atau alternatif itu merupakan jawaban yang benar (= kunci jawaban) dan sisanya merupakan jawaban salah. Jawaban yang salah itu biasa dikenal dengan istilah distractor atau pengecoh.
Contoh:


TEKNIK PENGANALISAAN ITEM TES HASIL BELAJAR



Tujuan utama dari pemasangan distraktor adalah agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar, ada yang tertarik untuk memilihnya. testee menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih merupakan jawaban benar. Bila semakin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa disktraktor itu makin dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Begitu pula sebaliknya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa distraktor baru dapat dikatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik, apabila distraktor tersebut telah memiliki daya tarik sedemikian rupa, sehingga testee merasa bimbang serta ragu-ragu lalu pada akhirnya mereka terkecoh dan memilih distraktor sebagai jawaban yang benar. 
Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain, yaitu: menganalisis pola penyebaran jawaban item. Pola penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana testee menentukan pilihan jawabannya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada setiap butir item.
Contoh cara menganalisis fungsi distraktor:
            Misalkan tes hasil belajar bidang studi Pendidikan Moral Pancasila diikuti oleh 50 orang siswa Madrasah Tsanawiyah. Bentuk soalnya adalah multiple choice dengan item sebanyak 40 butir, dimana setiap butir item dilengkapi dengan lima alternatif, yaitu A, B, C, D dan E. Dari 40 butir item tersebut di atas, khusus untuk butir item nomor 1, 2 dan 3 diperoleh pola penyebaran item sebagai berikut: 

Nomor Butir Item
Alternatif (= Option)
Ket.
A
B
C
D
E
1
4
6
5
(30)
5
(    ): Kunci Jawaban
2
1
(44)
2
1
2
3
1
1
(10)
1
37

Dengan pola penyebaran jawaban item sebagaimana tergambar pada tabel analisis diatas, maka dengan mudah dapat kita ketahui, berapa persen testee yang telah “terkecoh” untuk memilih distraktor yang dipasangkan pada item 1, 2 dan 3, yaitu:

a.   Untuk item nomor 1, kunci jawabannya adalah D, sedangkan pengecoh atau distraktornya adalah: A, B, C dan E.
·         Pengecoh A dipilih oleh 4 orang, berarti 4/50 × 100% = 8%. Jadi pengecoh A sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sebab angka persentasenya sudah melebihi 5%.
·         Pengecoh B dipilih oleh 6 orang testee, berarti 6/50 × 100% = 12% (telah berfungsi dengan baik).
·         Pengecoh C dipilih oleh 5 orang testee, berarti 5/50 × 100% = 10% (telah berfungsi dengan baik).
·         Pengecoh E dipilih oleh 5 orang testee, berarti 5/50 × 100% = 10% (telah berfungsi dengan baik).
·         Jadi, keempat pengecoh yang dipasangkan pada item nomor 1 itu sudah dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya.

b.  Untuk item nomor 2, kunci jawabannya adalah B, sedangkan pengecoh atau distraktornya adalah: A, C, D dan E.
·         Pengecoh A dipilih 1 orang testee, berarti 1/50 × 100% = 2% (belum berfungsi).
·         Pengecoh C dipilih 2 orang testee, berarti 2/50 × 100% = 4% (belum berfungsi).
·         Pengecoh D dipilih 1 orang testee, berarti 1/50 × 100% = 2% (belum berfungsi).
·         Pengecoh E dipilih 2 orang testee, berarti 2/50 × 100% = 4% (belum berfungsi).
·         Jadi, keempat pengecoh yang dipasangkan pada item nomor 2 itu belum dapat menjalankan fungsinya seperti yang diharapkan.

c.   Untuk item nomor 3, kunci jawabannya adalah C, sedangkan pengecoh atau distraktornya adalah: A, B, D dan E.
·         Pengecoh A, B dan D masing-masing dipilih oleh 1 orang testee (=2%). Berarti tiga buah pengecoh itu belum berfungsi.
·         Adapun pengecoh E dipilih oleh 37 orang, berarti 37/50 × 100% = 74% (telah berfungsi dengan baik).
·         Jadi, pada butir nomor 3 itu hanya 1 buah pengecoh saja yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Thursday, May 31, 2018

Perhitungan Waktu Sholat Dengan Menggunakan Rumus

Perhitungan Waktu Sholat Dengan Menggunakan Rumus
Rumus utama : cos to= -tanϕtanδo+sin h:cosϕ:cosδ0
a=cotan ha=[tan(ϕ-δo)]+1
Kota                : Jakarta
Tanggal           : 9 Februari
a=ABS[(ϕ-δo)]
20.73944444444
hm=[tan a]+1
1.37865545003
cotan ha=hm
0.72534439260
ha
35.95504363
Interp=(λ-λD):15=
0.121111111
A=-tanϕ tanδo=
0.02808910554
B=cosϕx cosδo=
0.96222860542
MP=12-e
12.23750000000




Diketahui




Derajat
Menit
Detik
Total
Lintang Ï•
6
10
0
6.16666666667
Bujur λ
106
49
0
106.81666666667
Deklinasi δ0
-14
-34
-22
-14.57277777778
Equation time
0
-14
-15
-0.23750000000

Lintang Standard
105
0
0
105.00000000000






** Untuk ashar, magrib isya ditambah
** Untuk subuh , Imsak, Terbit, Dluha dikurangi
* Untuk Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya, Subuh , Dluha, Ditambah
*Untuk Imsak dan Terbit (akhir subuh) dikurangi


Wednesday, May 30, 2018

BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN DISKUSI



BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN DISKUSI


 BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN DISKUSI


1.      Pendahuluan
            Pembelajaran (learning) bahasa harus dibedakan dengan pemerolehan (acquiring) bahasa. Jika pemerolehan bahasa terjadi secara tidak disengaja, maka pembelajaran bahasa diperoleh dengan sengaja. Jika pemerolehan bahasa terjadi karena kehendak kuat untuk menjadi bagian (bersoialisasi dengan) atau kehendak kuat untuk dianggap sebagai warga pemilik bahasa itu, maka pembelajaran bahasa terjadi karena "keinginan" untuk mengenali kehidupan orang-orang yang mempergunakan bahasa itu. Jika pemerolehan  bahasa terjadi secara tidak direncanakan, dirancang, disistematisasikan, maka pembelajaran bahasa terjadi karena pihak lain merancangnya tahap demi tahap, bahan demi bahan, tujuan demi tujuan. Rancangan dari pihak lain dapat saja wujud konkretnya menjadi suatu modul atau program pembelajaran, yang tanpa bantuan orang lain--tanpa guru-- dapat dikuasainya. Jika pemerolehan bahasa terjadi melalui intake (bahan bahasa yang meaningful/contextual/functional), maka pembelajaran bahasa dapat saja terjadi melalui bahan-bahan bahasa tanpa konteks.
Karena diketahui hasilnya sangat efektif, maka cara  memperoleh (acquiring) bahasa seperti disebutkan di atas diadopsi ke dalam pembelajaran (learning) bahasa. Muncullah karena itu cara pembelajaran kontekstual, di mana  materi bahasa dirakit dalam suatu konteks, dipilih sesuai dengan tingkat keseringan kemunculannya, dan dipilih berdasarkan konteks fungsional. Itulah sebabnya, pemilihan materi bahasa harus juga mendasarkan faktor sosiolinguistis dan pragmatis. Faktor sosiaolinguistis menentukan pilihan-pilihan variasi sosiaolinguistis: siapa mitra bicara, dalam konteks apa berbicara, saluran apa yang dipilih, tujuan apa yang dicapai. Faktor pragmatis menentukan pilihan-pilihan variasi kebahasaan berdasarkan tingkat keresmian komunikasi.
          Mempelajari bahasa berdasarkan ciri-ciri seperti yang terjadi pada pemerolehan bahasa itulah yang secara khusus disebut mempelajari bahasa dengan pendekatan komunikatif. Tujuan pokok dari belajar bahasa dengan pendekatan itu adalah dicapainya  kemampuan berkomunikasi pada diri pembelajar. Oleh karena itu, fungsi-fungsi bahasa menjadi pandom (penuntun) pemilihan variasi-variasi bahasa, yang meliputi variasi ucapan, pilihan kosa kata, pilihan bentuk kata, pilihah frasa, klausa, jenis kalimat, urutan unsur-unsur kalimat, bahkan pilihan jenis wacana tertentu. Karena fungsi bahasa harus menuntun pilihan variasi bahasa, maka mau tidak mau konteks ( wacana) menjadi pandon penting.  

2.      Tujuan Belajar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing
          Mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (termasuk mempelajari  bahasa lain sebagai bahasa asing) memiliki tujuan, yaitu tercapainya keterampilan berbahasa pada diri si belajar (learner). Ia menjadi dapat berbahasa, dapat berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa tersebut. Namun demikian, perlu dibedakan adanya dua jenis tujuan, yaitu umum dan khusus. Jika seseorang mempelajari bahasa asing semata-mata untuk dapat berkomunikasi keseharian dengan penutur bahasa itu, maka tujuan yang tercapai adalah tujuan umum. Tercapainya tujuan umum seperti ini mempersyaratkan tercapainya keterampilan yang disebut BICS (basic interpersonal communication skills). Oleh karena itu, tekanan penguasaan adalah bahasa sehari-hari sehingga dapat dipergunakan untuk kepentingan praktis, misalnya bagaimana si belajar menyapa, menawar, menolak, mempersilakan, mengucapkan terima kasih, menyatakan penyesalan, mengajak, meminta izin, memintakan izin, menyela, menyudahi percakapan, berpamitan, memperkenalkan diri, memperkenalkan temannya, mengeluh, memuji, memberi dan membalas salam, berobat, menelepon, pergi ke bank,  dan sebagainya.

 BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN DISKUSI
      Sebaliknya, jika seseorang ingin mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang diungkapkan dalam bahasa itu, maka tujuan yang tercapai adalah tujuan khusus. Misalnya, ia ingin mempelajari kepercayaan yang dianut suatu suku bangsa, atau mempelajari kebudayaan suatu suku bangsa. Tercapainya tujuan seperti ini mempersyaratkan tercapainya keterampilan yang disebut CALP (cognitive/academic language proficiency).
          Tentu saja, bahan yang diajarkan untuk dua jenis tujuan itu berbeda meskipun pendekatan yang dipergunakan sama; bahkan ciri-ciri kebahasaan bahasa Indonesia yang diajarkan juga berbeda. Soewandi (1993) menyingkat ciri khas bahasa untuk tujuan tercapainya BICS menjadi lima kecenderungan: (1) dipergunakannya bentuk- bentuk kata yang tidak formal, (2) dipergunakannya kosa kata tidak baku, (3) dihilangkannya imbuhan-imbuhan kata (afiks) dan kata-kata tugas yang tidak menimbulkan salah tafsir, (4) penulisan yang tidak baku, dan (5) dipakainya susunan kalimat yang sederhana dan lebih cenderung tidak lengkap. Sebaliknya, ciri khas bahasa untuk tujuan tercapainya CALP ada lima kecenderungan, yaitu ditekankannya penggunaan: (1) bentuk-bentuk kata yang baku, (2) kosa kata teknis dan baku, (3) imbuhan dan kata-kata tugas secara lengkap, (4) kaidah-kaidah penulisan, dan (5) susunan kalimat yang baku, lengkap unsurnya, dan pada umumnya lebih kompleks.
          Pembelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing dapat memilih salah satu dari kedua tujuan itu meskipun dapat saja keduanya. Hanya saja, untuk dapat.menguasai CALP, dituntut dimiliknya BICS lebih dahulu. Mengapa? Karena mereka yang mempelajari bahasa dengan tujuan CALP pada umunya mereka yang ingin mendalami salah satu aspek dari kegiatan manusia Indonesia, entah mendalami kebudayaannya, kehidupan sosialnya, atau politiknya, atau manusianya sebagai paguyupan tertentu (antropologis). Untuk dapat mencapai tujuan itu, secara metodologis ia harus menjadi bagian dari kehidupan yang ingin dikenali. Oleh karena itu, mau tidak mau, penguasaan BICS menjadi penolong yang penting dalam penemuan data yang diinginkan.Karena pada umumnya pembelajaran bahasa dibedakan menjadi tiga tingkat--permulaan, tengahan dan lanjutan--kiranya pembelajaran dengan diskusi hanya cocok diterapkan pada pembelajaran bahasa dengan tujuan tercapainya CALP; berarti hanya cocok bagi mereka yang sudah ada di tingkat lanjutan.
          Judul makalah itu mengacu, tentu saja, pada tercapainya tujuan belajar bahasa pada tingkat CALP. Mengapa? Karena belajar dengan diskusi mengandaikan "penguasaan bahasa" sudah terpenuhi.  Pada tingkat CALP ini, pada umumnya kursus-kursus bahasa Indonesia bagi orang asing menuntut tercapainya profil kompetensi : (1) mampu berbicara tentang topik-topik tertentu sesuai dengan bidang minatnya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar; (2) mampu mendengarkan pembicaraan dalam seminar, mendengarkan berita-berita dari radio dan televisi; (3) mampu membaca teks-teks asli (di majalah, atau surat kabar, terutama untuk memahami ide-ide yang ada di dalamnya), dan (4) mampu mengungkapkan gagasannya secara tertulis dalam bentuk karangan ilmiah. Jika pembelajaran pada tingkat BICS si belajar masih lebih berkutat pada penguasaan bahasa sebagai bekalnya, maka tekanan pembelajaran pada tingkat CALP lebih-lebih pada bagaimana dengan bekal bahasanya itu ia dapat memahami dan mengungkapkan idenya kepada mitra diskusi. Ini tidak berarti bahwa bekal bahasanya sudah dikuasainya secara sempurna. Si belajar masih tetap mempelajari bahasanya, tetapi boleh dikatakan sudah pada tingkat "menyempurnakan/memperbaiki".
  
 BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN DISKUSI


3.      Diskusi sebagai Salah Satu Bentuk Pembelajaran Bahasa Asing
          Istilah diskusi di sini berupa suatu konstruk yang oleh penulis diisi pengertian yang sedikit berbeda dengan istilah diskusi dalam kaitannya dengan debat, dan diskusi dalam kaitannya dengan bentuk pembelajaran pada umumnya. Pengertian umum diskusi adalah membicarakan suatu masalah oleh para peserta diskusi dengan tujuan untuk menemukan pemecahan yang paling baik berdasarkan berbagai masukan. Sebaliknya, debat adalah pembicaraan tentang suatu masalah dengan tujuan untuk memenangkan atau mempertahankan pendapat yang dimiliki oleh peserta debat. Sangat mungkin, pendapat yang dimenangkan bukan yang terbaik.
          Diskusi sebagai suatu bentuk pembelajaran umum adalah suatu cara pembelajaran di mana peserta didik (murid, mahasiswa) mendiskusikan (membicarakan, mencari jawaban bersama) dengan cara saling memberikan pendapatnya, kemudian disaring untuk ditemukan kesimpulan. Tentu saja persyaratan terjadinya pembelajaran dengan diskusi adalah bahwa bahasa benar-benar sudah sangat dikuasai oleh peserta didik.  Guru tidak lagi memberikan perhatian pada bahasa, melainkan pada isi atau materi diskusi.
          Diskusi di dalam makalah ini diberi pengertian sebagai bentuk pembelajaran bahasa asing, di mana para peserta diskusi mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah (topik). Seseorang mempersiapkan pendapatnya secara tertulis dalam bentuk karangan pendek, kemudian disajikan di kelas. Yang lain memberikan tanggapan secara lesan. Kebenaran pendapat yang disampaikan, baik oleh penyaji makalah maupun teman-temannya,  memang perlu diperhatikan, tetapi yang lebih ditekankan adalah bahasa yang dipergunakan benar atau tidak. Di samping itu, kesimpulan pendapat tidak perlu dituntut. Maka, tugas guru (instruktur) lebih pada merekam (mencatat) kesalahan-kesalahan bahasa apa saja yang dibuat oleh peserta diskusi.
          Konteks diskusi di dalam makalah ini mirip dengan apa yang terjadi pada pelaksanaan perkuliahan seminar bahasa dan sastra, atau perkuliahan seminar pengajaran bahasa dan sastra di program studi atau jurusan bahasa dan sastra. Dalam pelaksanaan perkuliahan jenis ini, di samping diperhatikan tercapainya kompetensi sebagai pemakalah dalam menulis makalah, menyajikan makalah, menjawab pertanyaan; dan tercapainya kompetensi sebagai pemandu, penambat, dan pembahas tertunjuk, juga masih diperhatikan bagaimana pembahasaan (cara mengungkapkan dengan bahasa) dalam makalah, bagaimana pemakaian bahasa dalam bertanya jawab, dan menuliskan tambatan.
          Pembelajaran bahasa asing dengan diskusi jarang  terjadi hanya dengan satu pertemuan,  tanpa didahului oleh pertemuan-pertemuan pendahuluan. Mengapa? Karena untuk dapat berdiskusi diperlukan bahan diskusi. Oleh karena itu, sebelum bentuk pembelajaran diskusi dapat diterapkan perlu ada pembelajaran-pembelajaran dengan bentuk pembelajaran lain untuk tujuan membekali bahan, baik bahan diskusi maupun bahan bahasanya sebagai alat diskusi. Menurut pengalaman, dalam suatu kursus bahasa---berarti terjadi secara terencana, dari pertemuan ke pertemuan yang lain--pelaksanaan pembelajaran bahasa asing dengan diskusi menjadi efektif jika diawali dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan topik-topik yang berhubungan; baru pada awal pertemuan-pertemuan berikutnya (konkretnya pada awal minggu berikutnya) dilaksanakan pembelajaran dengan diskusi. Bahan diskusi berupa perpaduan (ramuan atau olahan) dari topik-topik yang dipelajari pada pertemuan-pertemuan sebelumnya..
          Mengapa bentuk diskusi cocok untuk pencapaian bahasa tingkat CALP? Menurut pengalaman, belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing dengan bentuk diskusi memiliki keuntungan-keuntungan berikut. Pertama, dengan diskusi, memang materi bahasa bagi pembelajar "tidak" menjadi fokus perhatian mereka. (Materi bahasa menjadi perhatian pada waktu persiapan diskusi, yaitu pada waktu pertemuan-pertemuan pendahuluan). Yang menjadi fokusnya justru bagaimana pembelajar mengemukakan pendapatnya dengan logika, data, dan gagasannya. Bagi pembelajar tingkat lanjutan, berarti pada tingkat dicapainya CALP, kemampuan berbahasa "sudah" mereka miliki. Jadi, rasa takut salah dalam berbahasa sudah berkurang, atau bahkan dapat dihindari. Kedua, dengan diskusi, pembelajar "dipaksa" mengemukakan pendapatnya. Keterpaksaan itu justru mendorong pembelajar--tanpa "takut" salah dalam berbahasa--dengan sekuat tenaga dan sebanyak yang dimiliki untuk digunakan pada waktu menjadi pemakalah, atau pembahas, atau pemandu, atau notulis (penambat). Ketiga, semua keterampilan--mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis--dipelajari. Keempat, bagi pembelajar lanjut, yang pada umumnya adalah mereka yang duduk di perguruan tinggi, karena terjadinya transfer of learning, apa yang pernah diperolehnya--dalam hal ini penguasaan tentang aturan-aturan membuat makalah, dan sebagainya--dengan mudah dapat dimanfaatkan.

 4.      Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa dengan Diskusi
          Dengan memakai pengalaman mengajar beberapa tahun yang lalu, maka pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing dengan diskusi perlu melalui pertemuan-pertemuan pendahuluan dengan materi diskusi yang saling berkaitan, dan dengan materi bahasa yang berkelanjutan. Pada pelaksanaan diskusinya sendiri terdapat kegiatan sebagai berikut. Seseorang ditunjuk  menyajikan apa yang ditulis. Sebelumnya karangan yang disusunnya dibagikan kepada teman-temannya, dan kepada guru atau instrukturnya.
          Karena diskusi di sini merupakan bentuk pembelajaran dan masih tetap ditekankan pada penyempurnaan penguasaan bahasa, maka tidak diperlukan pemandu khusus. Instruktur sendiri yang mengatur jalannya "diskusi", di samping tugasnya yang pokok, yaitu mencatat--syukur dapat merekam-- kesalahan yang dibuat, baik oleh pemakalah maupun oleh yang lain, terutama kesalahan pada pemilihan kosa kata, penulisan kata, pemakaian dan pemilihan bentuk kata, pengucapan kata dan kalimat, penyusuna kata menjadi kalimat, dan menjadi paragraf. Kesalahan-kesalahan bahasa yang dibicarakan lebih ditekankan pada penyimpangannya dari kebakuan bahasa seperti yang diuraikan di muka sebagai ciri diperolehnya kompetensi CALP. Unsur sosiolinguistis dan pragmatis dari penggunaan bahasa itu juga perlu diperhatikan. Jika dianggap perlu dapat ditambahkan cultural notes dan etika berdiskusi. Tentu saja, karena dalam kursus-kursus bahasa asing terkandung unsur promosi, instruktur perlu juga bercerita sebagai pelengkap (pengayaan) terhadap topik-topik itu. (sayang tidak tersimpan satu contoh makalah yang peserta waktu itu).
          Poedjosoedarmo (2001) memberikan data yang menarik., yang terjadi di Amerika serikat sebagai berikut.
         
“To attain an advanced level of competence, for example in the USA, where English is a native language, in most universities students are required to take a test on English, and it means a test on writing essay. This is why, books on Essay Writing and Thesaurus are important for college students. Students need to consult to a dictionary of synonyms or a thesaurus to make them able to chose the right words in their essays. In Indonesia, to well known intellectuals also spent a lot of times publishing their writings before they become famous. Good writing skill seems to be very important in developing advanced language competence.


5.      Penutup
          Benang merah gagasan di muka dapat disampaikan sebagai berikut. Pertama, mempelajari BI sebagai bahasa asing   memiliki dua tujuan: umum dan  khusus. Kompetensi yang akan diperoleh oleh keduanya berbeda. Mempelajari BI dengan tujuan umum ingin memperoleh BICS, sedangkan dengan tujuan khusus ingin memperoleh CALP. Bagi mereka yang mempelajari BI dengan tujuan khusus, tentu saja, perlu memiliki kompetensi kebahasaan dalam tingkat BICS juga sebagai sarana untuk,  misalnya, memperoleh data. Kedua, Kebahasaan untuk tingkat BICS cenderung bercirikan sebagai bahasa yang tidak standar, sebaliknya untuk tingkat CALP bercirikan sebagai bahasa standar. Ketiga, diskusi sebagai suatu bentuk pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing tidak sama pengertiannya dengan diskusi sebagai bentuk pembelajaran pada umumnya, dan tidak sama dengan pengertian dengan istilah diskusi dalam pasangannya dengan debat. Tujuan yang ingin dicapai terutama adalah tercapainya kompetensi kebahasaan, lebih-lebih pada tingkat CALP. Oleh karena itu, bentuk pembelajaran ini kiranya cocok untuk pembelajaran bahasa asing pada tingkat lanjut. Keempat, karena pembelajaran bahasa tidak terjadi hanya dengan satu pertemuan, melainkan dari pertemuan yang satu ke pertemuan yang lain dalam periode terttentu, maka bentuk pembelajaran dengan diskusi hanya mungkin dilaksanakan setlah pembelajar memperoleh bahan diskusi dan bertambah penguasaan bahasasanya. Oleh karena itu, seyogyanya pembelajaran dengan diskusi perlu didahului oleh pembelajaran-pembelajaran dengan bentuk lain dengan materi yang saling berkaitan.



Daftar Pustaka


Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. “Language Teaching Approaches and Advanced Level of Language Competence”. Makalah dalam Seminar on Language and Culture, Sanata Dharma University, August 25.

Soewandi, A.M. Slamet. 1994. “Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing: Tujuan, Pendekatan, Bahan Pengajaran dan Pengurutannya”. Makalah pada Konferensi Internasional Pengajaran bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Kristen satya Wacana, 20-23 Januari.

------------. 1993. “Pembelajaran Bahasa Indonesia di Program SEASSI”, di Seattle, Universitas Washington.















                                                     

Monday, May 28, 2018

MEMPERBAIKI FOTO DENGAN ADOBE PHOTOSHOP


Pendahuluan

Adobe Photoshop atau sering sebut juga dengan Photoshop merupakan sebuah aplikasi pengolah gambar yang terkenal handal dan cerdas. Perangkat lunak tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, bergantung pada bidang pekerjaannya. Beberapa bidang yang sangat memerlukan Photoshop untuk menunjang pekerjaannya adalah: Publikasi (Percetakan), Desain Web (Web), Fotografi, Periklanan (Advertising), Multimedia, dan lain-lain.
Sebagian besar untuk mengedit foto maupun gambar dari hasil perekaman melalui Kamera Digital maupun dari Telepon Selular memanfaatkan perangkat lunak Adobe Photoshop karena fiturnya yang lengkap dan mudah dalam penggunaannya. Semua hal yang berhubungan dengan manipulasi foto seperti: mengganti warna baju, mengganti background, menghilangkan noda/jerawat, mempertajam foto, dan masih banyak lagi kasus lain, sangat mengandalkan Adobe Photoshop.
MEMPERBAIKI FOTO DENGAN ADOBE PHOTOSHOP

Versi terakhir Adobe Photoshop telah sampai pada versi 10 atau sering pula disebut Adobe Photoshop CS3. Fitur-fiturnya yang lengkap, menjadikan software dikenal cerdas dan handal ini digunakan banyak orang dibandingkan dengan software lain yang sejenis. Bidang-bidang yang menggunakan software ini antara lain:
  • Bidang Publikasi (Percetakan)
    Pada bidang ini, Adobe Photoshop sering digunakan untuk merancang berbagai keperluan yang tercakup dalam bidang percetakan seperti: desain sampul (buku, majalah, tabloid, dll), flyer, katalog, booklet, kartu undangan, kartu nama, dan lain-lain
  • Bidang Web
    Photoshop dapat digunakan untuk merancang bentuk antar muka (interface) tampilan web, diantaranya tombol (button), latar belakang (background), menu-menu, maupun navigasi.
  • Fotografi
    Sebagai seorang pecinta bidang fotografi sering memanfaatkan Adobe Photoshop untuk memperbaiki hasil karyanya seperti: mengganti warna objek, mempertajam gambar, menghilangkan noda/goresan, mencerahkan warna gambar, mengganti latar belakang, menggabungkan beberapa foto dan efek-efek lain dalam fotografi.
  • Periklanan
    Jika kita perhatikan di sepanjang jalan Jadebotabek, sebagian besar terdapat papan reklame berukuran sangat besar. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk agar pengguna jalan mendapatkan informasi tersebut sehingga pada akhirnya pengguna jalan kemungkinan memanfaatkan produk yang dipromosikan di sepanjang jalan tersebut.
  • Multimedia
    Adobe Photoshop juga sering digunakan untuk merancang tampilan muka multimedia agar nampak lebih menarik, mengatur navigasi, dan memberikan sentuhan warna maupun efek khusus pada interface multimedia tersebut, contohnya adalah tampilan muka Audio Player (Windows Media Player, Winamp, dll)