BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah lingkungan baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun mayarakat
sudah seyogyanya jika dalam diri individu ditanamkan satu kepercayaan pada
kemampuannya untuk membuat suatu keputusan sendiri dan untuk melakukan pilihan
sendiri. Di samping itu individu haruslah diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapat serta menempuh suatu resiko. Dengan demikian individu akan memiliki suatu
perkembangan dengan baik.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang mengupayakan individu untuk menjadi manusia
dewasa dan seutuhnya. Umar Tirtaraharja dan La Sulo (2005:33) mengartikan pendidikan
dengan beberapa batasan, diantaranya :
1. Pendidikan sebagai tranformasi budaya.
Pendikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi
yang lain. Nilai-nilai budaya mengalami proses tranformasi dari generasi tua ke generasi
muda.
2. Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi.
Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada
terbentuknya kepribadian peserta didik.
3. Pendidikan sebagai proses pembentukan warga negara.
Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta
didik agar menjadi warga negara yang baik.
4. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja.
Pendidikan diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki
bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan,
dan keterampilan kerja pada calon luaran.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut Muhibbin
Syah (2008:10) “Pendidikan adalah sebuah proses dalam mengupayakan perubahan sikap
dan tingkah laku seorang atau sekelompok orang di dalam mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan”.
Tergambar jelas bahwa pendidikan merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam
diri individu mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua. Individu itu
sendiri mengalami proses pendidikan yang didapatkan dari lingkungan baik lingkungan
keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan bagaikan cahaya penerang yang
berusaha menuntun individu dalam menentukan arah, tujuan, dan makna kehidupan.
Seorang individu sangat membutuhkan pendidikan melalaui proses penyadaran yang
berusaha menggali dan mengembangkan potensi dirinya melalaui proses belajar dalam
lingkunagn keluarga, sekolah maupun masyarakat. Maka sudah seharusnya jika seorang
individu mendapat perhatian lebih dalam mengembangan potensi dirinya, salah satunya
ialah di mana individu itu mampu memiliki rasa percaya diri yang besar melalui proses
pendidikan yang ada di dalam keluarga, sekolah maupun masyarakatnya.
Dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui sekolah, kepala sekolah dan jajarannya
berusaha memberikan pelayanan pendidikan kepada para peserta didik sesuai dengan
strategi yang telah dirancang. Guru bidang studi merancang dan melaksanakan program
layananan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga diharapkan peserta didik
dapat mengikuti pelajaran dengan sebaik-baiknya.
Sekolah sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal mempunyai
peranan yang sangat penting dalam menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya.
Dalam memberikan layanan pendidikan formal maka guru merupakan faktor utama, karena
guru sebagi pemegang peranan sebagai pendidik. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru
banyak sekali memegang berbagai peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebagai
seorang guru. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatan di
sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam uraian peranan guru di atas jelas bahwa guru sebagai pendidik ikut bertanggung jawab
akan keberhasilan para peserta didiknya. Guru dan peserta didik merupakan orang-orang
yang terlibat dalam proses dan hasil dari kegiatan yang dilakukan dalam setiap proses belajar
dan pembelajaran.
Peserta didik yang kurang memiliki rasa percaya diri, akan menghambat dalam proses
perkembangan belajarnya, mereka akan sulit untuk mengemukakan pendapat, bertanya serta
bergaul dengan teman sekolahnya, dan ini akan menjadi suatu kendala bagi perkembangan
dirinya. Maka dalam hal ini guru bimbingan dan konseling sebagai petugas bimbingan
mempunyai tanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara
optimal baik dari aspek pribadi, sosial, pendidikan, pengajaran maupun karirnya. Guru
bimbingan dan konseling harus membina dan mengembangkan rasa percaya diri mereka,
sehingga mereka mampu untuk berani dalam mengemukakan pendapatnya, mampu bergaul
dengan tanpa memandang perbedaan, mampu untuk bertanya dan pastinya mereka sebagai
peserta didik mampu untuk mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu guru
bimbingan dan konseling haruslah petugas yang menguasai dan kompeten di bidangnya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka dengan ini penulis
mengadakan penelitian dengan judul “Peranan Guru Bimbingan dan Konseling dalam
Membina Rasa Percaya Diri Peserta Didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat
mengidentifikasi berbagai permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:
1. Setiap peserta didik perlu memiliki rasa percaya diri yang besar ketika masuk kedalam sebuah
lingkungan baru.
2. Membina rasa percaya diri merupakan upaya dalam menumbuhkan kepercayaan terhadap diri
peserta didik agar diri mereka mampu dan berani untuk beradaptasi dalam berbagai siatuasi apapun.
3. Pedidikan dalam sebuah keluarga merupakan awal peranan penting dalam membentuk rasa
percaya diri peserta didik.
4. Peranan guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan peserta didik dalam menumbuhkan
rasa percaya diri mereka.
5. Guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam memberikan kesempatan dalam
membangkitkan rasa percaya diri peserta didik.
6. Seorang guru bidang studi harus bekerjasama dengan guru bimbingan konseling dalam
membina rasa percaya diri peserta didik.
7. Guru bimbingan dan konseling yang kompeten sangat diperlukan dalam menumbuhkan rasa
percaya diri peserta didik.
C. Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan masalah yang telah diuraikan dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas, agar tidak meluas dalam pembahasannya, maka penulis membatasi lingkup masalah yang akan diteliti, yaitu : “Peranan guru bimbingan dan konseling dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta”.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah ditetapkan diatas, dan pembahasan masalah
bisa berfokus kepada permasalahannya, maka masalah dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana peranan guru bimbingan dan konseling
dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jakarta?”.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai peranan guru bimbingan dan
konseling dalam membina rasa percaya diri peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA)
Jakarta.
F. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna bagi :
1. Sekolah
Sebagai bahan masukan dalam melaksanakan program sekolah yang akan mendatang untuk
lebih memperhatikan dalam membina rasa percaya diri kepada para peserta didik.
2. Guru Bimbingan dan Konseling
Sebagai bahan masukan bagi guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan layanan
bimbingan untuk lebih memperhatikan khususnya membina rasa percaya diri kepada peserta
didik.
3. Guru Bidang Studi
Sebagai bahan masukan untuk dan agar memberikan kesempatan dalam membangkitkan rasa
percaya diri peserta didik serta bekerjasama dengan guru bimbingan dan konseling dalam
melaksanakan program layanan bimbingan di sekolah.
4. Penulis
Sebagai persyaratan akhir perkuliahan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
pada Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan
Sosial Universitas …








