About

Subscribe

Monday, April 3, 2017

Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum

PENGERTIAN PESERTA DIDIK MENURUT ISLAM DAN UMUM


PENDAHULUAN

Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.
Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.
Sebagai peserta didik juga harus memahami kewajiban, etika serta melaksanakanya. Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh peserta didik. Sedangkan etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan yang harus di tati dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam proses belajar.
Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.
Peserta didik berstatus sebagai subjek didi. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannnya. Selaku pribadi yang memiliki cirri khas dan ingin mengembangkan diri secara terus menerus guna memecahkan masalah hidup yang di jumpai sepanjang hidupnya.
  
Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum


 PEMBAHASAN

1.      Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum
Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan Tilmidz jamaknya adalah Talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang mengingini pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
من طلب علما فادركه كتب الله كفلين…….( رواه الطبرنى )
“Siapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya dua bagian”. (HR. Thabrani)
Jadi, peserta didik menurut islam adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.
Sedangkan peserta didik menurut umum adalah anggota masyarakat yang  berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan untuk bisa tumbuh dan berkembang kearah kedewasaan. Dan menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
2.      Dasar-dasar kebutuhan manusia pada pendidikan
Dasar kebutuhan manusia adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusia bisa mempertahankan hidupnya. Peran pendidik yang utama adalah tercapainya suatu kepuasan bagi diri sendiri dan peserrta didiknya. Hal ini menggambarkan suatu bagian dimana penerapan proses pendidikan selalu difokuskan pada kebutuhan individu yang unik dan sebagai suatu bagian dari integral dari keluarga dan masyarakat. Dan menjadi tanggung jawab dari setiap orang. Misalnya tanggung jawab orangtua terhadap anaknya, demikian juga tanggung jawab pendidik untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar peserta didik. Peran tersebut dilaksanakan secara optimal melalui proses pendekatan pendidikan. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak di rancang untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar dimulai dengan orang terdekatnya. Yang selanjutnya proses belajar itulah yang menjadi basis pendidikan.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subyektif yang sering justru dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya. Produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrument kekuasaan dan kesombongan untuk memperdayai orang lain. Kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.


3.      Faktor-faktor keberhasilan pendidikan
a.       Pendidik
Pendidik yang mampu untuk menjalankan tugas keguruannya secara proporsional dan mampu menjadi motivator dalam proses belajar mengajar disekolah.
b.      Peserta didik
Peserta didik yang bersih hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa,peserta didik yang selalu menghormati gurunya.
c.       Kurikulum
Kurikulum berbasis kompetensi yang selaras dengan fitrah insane sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik.
d.      Metode
Metode pendidikan yang berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran anak didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran agama islam melalui motivasi.
e.       Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana bisa memotivasi belajar siswa sehingga tercapai tujuan pendidikan
f.       Faktor psikologis para peserta anak didik
Pendidik sebagai pengajar harus mengetahui kejiwaan anak didiknya. Begitu pula orang tua harus mengetahui kejiwaan anaknya. karena pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah tapi juga dirumah.

4.      Sifat-sifat yang harus dimiliki peserta didik
Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami sifat yang harus dimilkinya, yaitu:
1.       Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2.      Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
4.      Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.

Filsafah etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam bukunya Ihya ‘Ulumudin. Dengan kata lain, filsafah etika Al Ghazali adalah teori tasawufnya.
Mengenai tujuan pokok dari etika al Ghazali kita temui pada semboyan tasawuf yang terkenal: al-takhalluq bi-akhlaqillahi ‘ala thaqatil basyariyah, atau pada semboyannya yang lain, al-shifatirrahman ala thaqalil-basyatiyah.
Maksud semboyan itu adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas, beragama, dan sebagainya.

Pengertian peserta didik menurut Islam dan umum
Peserta didik juga mempunyai kewajiban, diantaranya yaitu menurut UU RI No.20 tahun 2003:
     a.  Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.
 b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali bagi yang di bebaskan dari biaya tersebut.



5.      Adab peserta didik
1.      Mensucikan hati
2.      Mengurangi keterkaitan dengan kesibukan duniawi
3.      Tidak sombong
4.      Mendahulukan menuntut ilmu yang paling penting untuk dirinya
5.      Mengetahui cirri-ciri ilmu yang paling mulia
6.      Peserta didik harus sopan dalam berbuat maupun berbicara dengan orang yang lebih tua

6.      Kemuliaan belajar
Kemuliaan belajar dan mengajar menurut Al Ghazali :

a.  Bersumber dari al-Qur’an (QS. At-Taubah: 122)
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ayat tersebut mendorong setiap individu maupun kelompok untuk belajar, menuntut ilmu dan memperdalam ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan, seperti komentar al-Ghazali pada ayat tersebut, yaitu: “Rupanya mereka tidak mengetahui bahwa fiqih itu adalah penguasaan paham tentang Allah dan ma’rifat terhadap sifat-sifat-Nya, sehingga dapat mengingatkan dan menjaga dirinya, di mana hatinya merasa takut dan memenuhi ketentuan taqwa yang sebenarnya.”

b.    Bersumber dari Al-Hadits
“Nabi Muhammad saw mengatakan, sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu, sebagai tanda ridha dengan usahanya itu.(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Sofwan ban Assal).
Dari hadis ini dapat difahami bahwa para malaikat juga mendoakan orang yang menuntut ilmu di jalan Allah. Dengan kata lain selain orang itu menuntut ilmu untuk mencari ridho Allah SWT, orang tersebut (peserta didik) juga harus berusaha (berikhtiar).

c.    Bersumber dari Perkataan Sahabat
“Ibnu Mubarak mengatakan: aku heran kepada orang yang tidak menuntut ilmu pengetahuan. Bagaimanakah jiwanya dapat mengajaknya kepada kemuliaan.”
Sedangkan kemuliaan dari mengajar yaitu:

1.    Bersumber dari al-Qur’an (QS. At-Taubah: 122)
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Dari perkataan sahabat dan ayat Al-Qur’an tersebut terdapat korelasi bahwasannya menuntut ilmu itu sangat penting. Menuntut ilmu berarti juga jihad fi sabilillah, dalam artian jihad fi sabilillah di sini tidak hanya berperang di medan perang akan tetapi menun tut ilmu adalah salah satu jihad untuk menambah pengetahuan.

2.    Bersumber dari Al-Hadits
Rasulullah saw telah mengatakan :
“Misal aku diperintahkan Allah dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seumpama hujan lebat yang menyirami bumi. Di antara ada sebidang tanah yang menerima air hujan itu, lalu menumbuhkan banyak rumput dan ilalang. Di antara ada yang dapat membendung air itu, lalu diberikan oleh Allah kepada manusia, maka mereka minum, menyiram dan bercocok tanam. Dan diantaranya ada sebagian tempat yang rata-rata tidak dapat membendung air itu dan tidak dapat menumbuhkan rumput”.
Kemudian al-Ghozali memberikan komentarnya sebagai berikut:
“Pertama, Dia (Nabi) menyebut perumpamaan bagi orang yang dapat mengambil manfaat dengan ilmunya.
“Kedua, ia menyebut perumpamaan bagi orang yang tidak memperoleh apa-apa dari keduanya itu.
Jadi orang yang menuntut ilmu itu adakalanya bermanfaat dan tidak. Yakni bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Orang yang menuntut ilmu. Apabila ilmunya tidak diamalkan maka ilmu tersebut akan sia-sia dan hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri bukan untuk orang lain.

3.    Bersumber dari Perkataan Para Sahabat
“Umar ra. Berkata : barang siapa yang mengatakan (memberitakan) suatu hadits, lalu diamalkan orang, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.”
Hadis tersebut menerangkan tentang orang yang memberitakan ilmu pengetahuan kepada orang lain yang kemudian diamalkan maka pahalanya sama dengan orang yang mengamalkannya.



DAFTAR PUSTAKA
Nuruhbiyati. 2000. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Setia
UU RI NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Purwanto, M. Ngalim MP. 1985. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT.Remaja
            Rosdakarya
Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Mustofa, H. A. Drs. 1997. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia

0 komentar:

Post a Comment